Bertanya
Tuesday, June 3rd, 2008"Bu… ini apa bu? kalo ini apa?"
"Pak dimana Tuhan bobo?"
"Pap kenapa anjing nggak punya tangan?"
"Mom siapa yang nyuruh matahari tidur?"
"Babe… bagaimana caranya burung terbang?"
"Nyak kapan ikan tidur?"
"Bunda kok beruang nggak punya sayap?"
"Ayah Ban mobil itu gunanya untuk apa?"
Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar tidak penting itu pasti pernah dilalukukan oleh anda saat kecil dulu. Saat kita tidak khawatir akan ditertawakan karena karena bertanya hal-hal bodoh, bahkan pertanyaan itu dilakukan ditengah-tengah celoteh lain yang mungkin saja tidak berkaitan. Senangnya menjadi ilmuwan kecil yang kehausan mempelajari semua hal baru dan menarik hati. Anak-anak belajar dengan bertanya untuk memenuhi rasa ingin tahunya.
Akan tetapi seiring bertambahnya usia orang mulai selektif dalam bertanya dan lama kelamaan pertanyaan menjadi semakin berkurang dan bahkan tidak terdengar lagi. Mungkin malu untuk bertanya hal-hal yang dirasa bodoh, Mungkin takut dianggap remeh. Mungkin merasa tidak ada yang spektakuler untuk ditanyakan
Apakah pertanyaan itu hilang? Pelan-pelan, seiring dengan tidak pernahnya kita bertanya, kita akan kehilangan pertanyaan-pertanyaan itu. Kehilangan rasa ingin tahu terhadap berbagai hal, sehingga kita terbiasa menerima mentah-mentah penjelasan orang lain yang dianggap penting baik di pendidikan, pemerintahan, kemasyarakatan, perusahaan, keagamaan maupun penjelasan dari orang lain yang dianggap logis, spektakuler, didukung data yang meyakinkan. Hal ini membuat kita cenderung konform dan memiliki sudut pandang yang sama dalam memandang satu hal dan berupaya dengan keras mengingat jawaban yang sama terhadap satu pertanyaan…. memorizing…. yah.. kita terbiasa belajar dengan mengingat yang sayangnya kemampuan cognitif yang satu ini amat terbatas dengan usia, rentang atensi, ketertarikan, pembiasaan dan kapasitas otak yang tersedia.
Lain halnya dengan bertanya, kemampuan manusia untuk bertanya melandasi kemampuan kognitif untuk melakukan hal-hal lain seperti analisis, pengembilan keputusan, penyelesaian masalah, kreativitas yang intinya dapat menghantarkan kita pada hal-hal baru yang berbeda dari yang biasanya kita ketahui dan kita ingat. Hanya saja banyak hal membuat kita lupa bahwa bertanya ini adalah suatu keterampilan yang harus diasah terus dalam hidup. Bertanya menjadi suatu hal yang mengganggu dan menghabiskan waktu.
Kehilangan keterampilan bertanya pun dapat menghambat kita dalam mengajukan pertanyaan yang tepat pada saat menghadapi masalah. Misalnya pada masalah kegagalan memasarkan suatu produk baru, walaupun pertanyaan besarnya adalah "Mengapa gagal memasarkan produk tersebut?" namun hal itu dirasa kurang membantu untuk menganalisis karena jawabannya yang dirasa masih terlalu luas. Mungkin akan lebih tepat pertanyaannya "Apakah telah ada kebutuhan masyarakat terhadap produk tersebut dan masyarakat mana yang membutuhkannya?"
Sering kali terjadi adalah saat menghadapi masalah besar yang keluar adalah pertanyaan-pertanyaan Trivia sehingga pembahasan masalah menjadi melenceng arahnya sehingga terjadilah debat kusir.
Aah.. tapi mungkin kita memang lebih menikmati debat kusir dari pada mencari jawaban baru yang mungkin saja dapat mengganggu kestabilitasan gaya hidup yang telah ada saat ini… karena menemukan hal baru terkadang menyakitkan, seperti judul serial TV jaman dulu "Growing Pain" bertumbuh itu menyakitkan…. tapi untuk anak mungkin judulnya kurang lengkap yaitu "growing pains but excited"
Jadi… biarkan anak bertanya, kalau perlu pancing terus minatnya untuk bertanya dengan pertanyaan balasan. Walau kita malas dan malu untuk bertanya…. berikan kesempatan bagi anak-anak kita akan terus bertanya dan berlatih untuk menanyakan hal-hal yang lebih signifikan, siapa tahu masalah Banjir Jakarta atau masalah Kemiskinan akut di Indonesia bisa mereka selesaikan nanti….