Hanya dengan satu DNA
Apa sih kelebihan manusia dari hewan…?? Aristotleism akan mengatakan bahwa manusia tidak jauh berbeda dengan hewan. Bahkan hanya dengan satu perbedaan protein DNA pada rantai DNA membuat kita memiliki kelebihan jauh diatas simpanse.
Selain otak apa lagi keunggulan manusia dari pada hewan? Tidak ada jawaban pasti, namun kalau saya boleh berteori selain otak, manusia punya rasa. Mengapa rasa harus dipisahkan dari otak, hanya karena saya ingin menegaskan bahwa rasa yang dimiliki manusia berbeda dari hewan. Rasa itu yang terkadang bisa mengendalikan otak, atau sebaliknya. Dengan rasa itu juga manusia tidak akan memakan anaknya yang lemah, atau dengan rasa manusia memiliki etika dan aturan sosial.
Rasa kangen, rasa sayang, rasa benci, rasa dendam, rasa cinta, rasa marah, rasa malu, rasa senang, rasa takut, rasa cemas, rasa bangga…. dan rasa-rasa lainnya, biasanya di kategorikan sebagai emosi, karena konon katanya Bahasa Indonesia tidak memiliki padanan kata yang sama.
Semua rasa ini memiliki jejak neurologisnya di otak, jika seseorang sangat cemas dan bahkan cenderung traumatik dapat menyebabkan bagian amygdala di otaknya mengecil dan tidak dapat membesar kembali. Tapi apakah sebaliknya orang yang amygdalanya kecil menyebabkan Ia selalu tampak cemas tingkat tinggi? Inti dari cerita ini adalah selalu ada keterkaitan antara otak dengan rasa. Namun simpanse yang juga memiliki otak dengan volume yang hanya berbeda sedikit tidak menunjukkan rasa sekaya rasa yang dimiliki oleh manusia. Benarkah?
Rasa yang dimiliki oleh bayi manusia menyebabkan mereka mau berbagi perhatian/intensi (shared intentionality) dengan orang dewasa yang ada di sekitarnya. Bukan berarti simpanse tidak melakukannya, hanya saja simpanse mau ikut berbagi perhatian hanya jika tindakan manusia/simpanse lain ada kaitan dengan kebutuhannya. Misalnya ia mau menoleh kearah yang sama dengan manusia jika arah tersebut berarti makanan dan setelah ia memperoleh makanan tersebut, maka ia tidak akan kembali menoleh kearah semula, walau manusia masih menoleh kearah yang sama.
Hal yang berbeda terjadi pada bayi 9 bulan. Jika kita menoleh pada suatu arah/objek ia akan ikut menoleh ke arah yang sama dan setelah itu kembali melihat kepada mata kita dan kembali ke arah kita menoleh. Hal ini dilakukannya berulang-ulang untuk meyakinkan bahwa ia melihat kearah yang benar dan menyampaikan bahwa ia berusaha memahami apa yang ia lihat. Bayi akan mempelajari reaksi kita sebagai orang dewasa, yang sedang melihat objek tersebut, untuk bersikap. Disini terjalinlah komunikasi antara bayi dan orang dewasa, dan bayi memperkaya, melatih dan mengembangkan rasa yang dimilikinya.
Masih belum terlalu jelas buat saya apakah rasa pada bayi yang menyebabkan mereka mau berbagi perhatian atau sebaliknya, karena mereka mau berbagi perhatian maka mereka mengembangkan rasa.
Tapi yang jelas rasa kangen yang saya rasakan dan memori mengenai rumah dan anak-anak dan suami sangat menguasai saya saat ini, sehingga sulit untuk jadi produktif, malah nulis yang nggak-nggak di blog…. hmpff…..
kangeeeeeeeeeeeeeenn… pengen pulang…..
Aur… Ayya…Abak… Ande kangen berats…
November 9th, 2008 at 5:09 pm
Keep up the good work.
September 2nd, 2009 at 9:55 pm
kalau ingin tahu rasanya bayi
pean harus tau Ilmunya Rasa