Meniru
Semua orang pasti pernah meniru atau mengimitasi suatu hal. Apakah itu gaya berpakaian, cara merokok, cara mendekati lawan jenis, atau gaya bayi meleletkan lidahnya atau berbagai hal lainnya. Bahasa "keren" dari meniru itu meng-imitasi (imitating). Ketika kita meniru seseorang, seringkali tidak kita sadari bahwa yang kita lakukan itu adalah melakukan kontak sosial.
Dengan meniru setiap gerakan seorang anak kecil, hal itu akan membuat anak itu tertawa ataupun kesal. Ingat permainan "aku jadi cermin" yaitu kita melakukan semua gerakan lawan kita sampai ia kesal atau kita tidak dapat lagi mengikuti gerakannya. Biasanya hal ini dapat dijadikan ice breaking dalam suatu pelatihan karena memang meniru orang lain maupun ditiru orang lain itu menyenangkan. Apalagi ketika di SMU orang mengikuti gaya kita berpakaian membuat kita menjadi selebriti sekolah, dan menjadi pusat perhatian banyak orang.
Seringkali kita tidak sadar atau pura-pura tidak sadar dalam meniru orang lain. Hal itu sah-sah saja, karena proses dalam pikiran kita tidak sesederhana itu dalam meniru. Seringkali kita meniru orang lain tidak secara "mentah-mentah" akan tetapi dimodifikasi sesuai dengan keadaan kita. Jadi yang ditiru oleh orang bukanlah gaya akan tetapi goal/tujuan dari dilakukan suatu tindakan.
Katakan si fulan bercerita ia berhasil menggaet lima orang pacar sekaligus dan hal itu menyenangkan serta membanggakan. Ia pun menceritakan tip dan trik disertai "bumbu" gaya dan kalimat yang dipergunakkan untuk memperdaya lawan jenis. Sang teman tertarik untuk menirunya, maka ia akan meniru tip dan trik dari si Fulan, namun dengan gaya dan kalimat yang ia miliki sendiri.
Hal ini juga menunjukkan bahwa dengan meniru kita bisa belajar. Seperti bayi menirukan semua kata-kata yang diucapkan ibunya atau ikut ber-ciluk ba bersama orang dewasa yang sedang bermain dengannya. Saat itulah bayi belajar.
Mungkin itu sebabnya saat kita sedang beradaptasi dengan suatu kondisi yang baru, biasanya kita akan melihat-lihat kebiasaan orang lain. Misalnya jika seseorang pergi ke tempat yang sangat berbeda aturan, nilai dan normanya dengan yang telah biasa ia ketahui maka ia akan memperhatikan cara orang lain bertingkah laku.
Hal itu yang terjadi ketika saya berbelanja di supermarket di Belanda. Disaat kita berbelanja di Indonesia, biasanya kita tinggal membayar dan setelah itu kita akan dilayani sampai semua barang siap dibawa. wuah… ternyata itu after sales service yang sangat baik. Disini semua orang membawa tas belanjanya sendiri, menggesekkan kartu kredit atau kartu debet sendiri dan memasukkannya ke kantong belanja sendiri.
Saya yang tidak terbiasa ternyata kalah cepat memasukan belanjaan ke kantong daripada oma-oma yang membayar di kasir sebelah. Setelah saya perhatikan, ternyata orang-orang telah mempersiapkan semua sebelum membayar, kartu, kantong belanja dan setelah barang di gesek oleh kasir barang-barang langsung dimasukkannya ke dalam kantong, Bahkan beberapa orang telah menyusun barang di hadapan kasir sesuai dengan susunan barang yang akan di masukkan ke keranjang belanjanya. Wow… so well prepared.
Belanja berikutnya saya mencoba mengikuti gaya si oma, walhasil saya ga terlalu kedodoran, walau susunan barangnya masih amburadul. hehehe.. yang ini kayaknya agak sulit diubah
Jadi meniru itu ada gunanya kan?
August 12th, 2008 at 4:03 am
Wah, kalo nyiapin belanjaan sesuai urutan masukin ke tas di kasir, gue banget tuh!! Hehehe.. Maklum gol darah A
Hehehe..