Archive for July, 2007

Memilih…..

Thursday, July 5th, 2007

Kadang saya benci dengan kata yang satu itu, karena ketika harus memilih mengingatkan betapa menjadi orang dewasa itu tidak menyenangkan. Ketika suatu keputusan dibuat dari beberapa pilihan yang ada maka mengikuti dibelakangnya adalah tanggung jawab dan konsekuensi yang harus ditanggung oleh pengambil keputusan.

Pilihan menjadi lebih berat untuk diambil karena memperhitungkan konsekuensi dari keputusan dan siapa saja yang terpengaruh oleh keputusan itu. Itu kenapa CEO bisa digaji ratusan juta padahal bekerjanya hanya mengambil keputusan. Itu juga sebabnya kita harus merasa prihatin dengan gaji Presiden yang "cuma" Rp 60Juta tapi harus memikul tanggung jawab 120juta orang Indonesia (ato sekarang dah lebih ya…??) tapi… hidup itu pilihan…. siapa suruh jadi Presiden kalo ga mau tanggung jawabnya cuman mau gaji-nya doang….

Terkadang teori memilih dengan SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) ga bicara banyak kalo udah harus memilih dengan muatan emosi yang besar. Bukan karena SWOT-nya ga berhasil, cuma terkadang kita jadi ga jujur ama diri sendiri ketika harus mengklasifikasikan suatu kondisi, misalnya apakah punya anak gadis yang lucu-lucu itu suatu kekuatan atau ancaman bagi seorang bapak? Kalau kita bertanya pada orang tua tertentu di suatu daerah penghasil mangga dan "wanita" mungkin jawaban yang akan kita peroleh adalah punya anak gadis adalah suatu kesempatan!! itu kenapa menurut hemat saya SWOT jauh lebih berhasil digunakan pada lingkungan kerja dimana pemikiran lebih objektif dan ilmiah.

Mengingat memilih itu memiliki konsekuensi yang tidak menyenangkan, seringkali  orang menunda untuk memilih sehingga pada suatu saat ia terdesak untuk mengambil suatu keputusan dengan tergesa-gesa dan tidak lagi memiliki waktu untuk melakukan analisis dan persiapan terhadap konsekuensi pilihannya. Atau jika ada kesempatan untuk bermain di median…. maka median menjadi pilihannya, seperti ingin menjadi gay namun juga dituntut untuk menjadi straight sehingga akan lebih aman untuk memilih menjadi biseksual.

Tapi hidup ini penuh dengan pilihan mulai dari bangun pagi… memilih bangun atau mematikan weker dan kembali menarik selimut, memilih mandi pagi atau siang, memilih pergi bekerja atau nongkrong di mall, memilih menu makan siang, memilih pasangan hidup, memilih mengingat atau melupakan, memilih ada atau tiada, memilih pergi atau tinggal. Semua pilihan ada konsekuensinya, semua konsekuensi menuntut tanggung jawab.

Memilih membutuhkan kemampuan analisis, akan tetapi bertanggung jawab membutuhkan kemampuan mendorong dan memfokuskan diri. Selain itu internalisasi nilai-nilai, aturan, disiplin yang dimiliki oleh seseorang juga memegang peranan penting akan terlaksana atau tidaknya tanggung jawab itu. Ketika Gajah Mada memilih untuk tidak meminum air kelapa hal itu menjadi penting karena air kelapa merupakan lambang kenikmatan. Konsekuensi hilangnya suatu kenikmatan dalam jangka waktu tertentu dapat menjadi dorongan yang amat besar untuk mencapai target tertentu dan dengan cara apa target tersebut dapat tercapai.

Kembali lagi dengan memilih…. kalo saya boleh memilih…. saya pengen dipilihin aja deh… kembali menjadi anak kecil yang dipelototi oleh ibunya ketika salah memilih baju untuk pergi, atau yang diputuskan oleh ayahnya untuk masuk SMP negeri atau swasta….
Huuh….. sayangnya itu bukan pilihan…. so I have to keep my mind clear, so I could pick the right decision not only for today but for the rest of my family life.