Bertanya

June 3rd, 2008 by ira-silva

"Bu… ini apa bu? kalo ini apa?"
"Pak dimana Tuhan bobo?"
"Pap kenapa anjing nggak punya tangan?"
"Mom siapa yang nyuruh matahari tidur?"
"Babe… bagaimana caranya burung terbang?"
"Nyak kapan ikan tidur?"
"Bunda kok beruang nggak punya sayap?"
"Ayah Ban mobil itu gunanya untuk apa?"

Pertanyaan-pertanyaan yang terdengar tidak penting itu pasti pernah dilalukukan oleh anda saat kecil dulu. Saat kita tidak khawatir akan ditertawakan karena karena bertanya hal-hal bodoh, bahkan pertanyaan itu dilakukan ditengah-tengah celoteh lain yang mungkin saja tidak berkaitan. Senangnya menjadi ilmuwan kecil yang kehausan mempelajari semua hal baru dan menarik hati. Anak-anak belajar dengan bertanya untuk memenuhi rasa ingin tahunya.

Akan tetapi seiring bertambahnya usia orang mulai selektif dalam bertanya dan lama kelamaan pertanyaan menjadi semakin berkurang dan bahkan tidak terdengar lagi. Mungkin malu untuk bertanya hal-hal yang dirasa bodoh, Mungkin takut dianggap remeh. Mungkin merasa tidak ada yang spektakuler untuk ditanyakan

Apakah pertanyaan itu hilang? Pelan-pelan, seiring dengan tidak pernahnya kita bertanya, kita akan kehilangan pertanyaan-pertanyaan itu. Kehilangan rasa ingin tahu terhadap berbagai hal, sehingga kita terbiasa menerima mentah-mentah penjelasan orang lain yang dianggap penting baik di pendidikan, pemerintahan, kemasyarakatan, perusahaan, keagamaan maupun penjelasan dari orang lain yang dianggap logis, spektakuler, didukung data yang meyakinkan. Hal ini membuat kita cenderung konform dan memiliki sudut pandang yang sama dalam memandang satu hal dan berupaya dengan keras mengingat jawaban yang sama terhadap satu pertanyaan…. memorizing…. yah.. kita terbiasa belajar dengan mengingat yang sayangnya kemampuan cognitif yang satu ini amat terbatas dengan usia, rentang atensi, ketertarikan, pembiasaan dan kapasitas otak yang tersedia.

Lain halnya dengan bertanya, kemampuan manusia untuk bertanya melandasi kemampuan kognitif untuk melakukan hal-hal lain seperti analisis, pengembilan keputusan, penyelesaian masalah, kreativitas yang intinya dapat menghantarkan kita pada hal-hal baru yang berbeda dari yang biasanya kita ketahui dan kita ingat. Hanya saja banyak hal membuat kita lupa bahwa bertanya ini adalah suatu keterampilan yang harus diasah terus dalam hidup. Bertanya menjadi suatu hal yang mengganggu dan menghabiskan waktu.

Kehilangan keterampilan bertanya pun dapat menghambat kita dalam mengajukan pertanyaan yang tepat pada saat menghadapi masalah. Misalnya pada masalah kegagalan memasarkan suatu produk baru, walaupun pertanyaan besarnya adalah "Mengapa gagal memasarkan produk tersebut?" namun hal itu dirasa kurang membantu untuk menganalisis karena jawabannya yang dirasa masih terlalu luas.  Mungkin akan lebih tepat  pertanyaannya "Apakah telah ada kebutuhan masyarakat terhadap produk tersebut dan masyarakat mana yang membutuhkannya?"

Sering kali terjadi adalah saat menghadapi masalah besar yang keluar adalah pertanyaan-pertanyaan Trivia sehingga pembahasan masalah menjadi melenceng arahnya sehingga terjadilah debat kusir.

Aah.. tapi mungkin kita memang lebih menikmati debat kusir dari pada mencari jawaban baru yang mungkin saja dapat mengganggu kestabilitasan gaya hidup yang telah ada saat ini… karena menemukan hal baru terkadang menyakitkan, seperti judul serial TV jaman dulu "Growing Pain" bertumbuh itu menyakitkan…. tapi untuk anak mungkin judulnya kurang lengkap yaitu "growing pains but excited"

Jadi… biarkan anak bertanya, kalau perlu pancing terus minatnya untuk bertanya dengan pertanyaan balasan. Walau kita malas dan malu untuk bertanya…. berikan kesempatan bagi anak-anak kita akan terus bertanya dan berlatih untuk menanyakan hal-hal yang lebih signifikan, siapa tahu masalah Banjir Jakarta atau masalah Kemiskinan akut di Indonesia bisa mereka selesaikan nanti….

Gombal

April 10th, 2008 by ira-silva

"Kenapa perempuan senang digombali?" Pertanyaan ini sulit dijawab, hanya saja ketika pertanyaan diubah menjadi "mengapa orang senang digombali?" Pertanyaan ini menjadi lebih mudah untuk dijawab.

Stop! jangan berpikir ini akan bercerita tentang masalah Gender or what so ever, ini tidak lain tidak bukan hanyalah masalah seseorang yang dapat dengan mudahnya percaya terhadap sesuatu yang bahkan sangat jelas bohongnya.

Seringkali terlihat betapa kerasnya kerja seseorang yang memiliki harapan untuk menjadi orang kaya, bahkan bersedia mengikuti arisan berantai maupun money game dengan harapan dapat mendapatkan modal untuk menjadi kaya.  Ketika mengikuti arisan berantai yang biasanya sangat tidak masuk akal, seseorang  sebenarnya sedang berada dalam proses digombali.

Demikian juga yang sering terjadi adalah seseorang dengan mudahnya jatuh ke pelukan seseorang hanya dengan kata-kata manis. Lebih gawat lagi adalah ketika buaya darat itu melakukan kesalahan, dapat dengan mudah dimaafkan pasangannya hanya dengan modal rayuan maut yang gombal.

Berdasarkan dua contoh diatas apakah ini berarti manusia itu pada dasarnya mudah untuk dibohongi dan digombali?

Ketika seseorang memiliki suatu kebutuhan, maka ia akan berupaya serta
berharap untuk dapat memenuhi kebutuhannya itu, bahkan kalau perlu
dengan cara apapun. Persepsi akan terpenuhinya harapan dengan suatu cara yang dianggap mumpuni, membuat harapan seseorang melambung ketika ada pihak datang dan membawa cara yang dianggap dapat memenuhi harapannya tersebut.

Ketika harapan melambung dengan satu persepsi, membuat pikiran terfokus pada satu titik, yang terkadang meniadakan sudut pandang lain yang berbeda. Misalkan, anda terpesona pada wajah ganteng seseorang, maka bisa dipastikan anda akan melewati fakta kecil bahwa si ganteng memiliki telinga yang sedikit lebih besar sebelah, atau ada sayuran yang tersisa dideretan gigi putihnya. Fakta-fakta yang pastinya tidak akan anda lewati jika anda melewati satu harian penuh dengan si ganteng. Akan tetapi fakta itu pasti tidak akan anda perhatikan kalau anda sangat menyukai si ganteng pada pandangan pertama, memiliki harapan untuk dapat berkenalan dengannya dan hanya memiliki kesempatan bersalaman selama 5 detik dengannya.

Kesimpulan yang dapat ditarik adalah, jika anda digombali, biasanya anda akan sadar ketika gombal itu berakhir, atau setelah berlangsung lebih lama, dimana anda memiliki waktu lebih untuk mengenali tanda-tanda kegombalan dari seseorang, dan dapat mengembangkan sudut pandang berbeda tentang orang tersebut. Jadi selama sudut pandang maupun persepsi kita masih terfokus hanya pada satu hal yang diharapkan maka si penggombal dapat bereaksi lebih lama.

Kasus klasik adalah, seorang gadis yang kesepian dan sangat ingin memiliki pasangan, yang tentunya bisa dibawa kepada keluarganya dan menikah serta hidup happily ever after a la Cinderella. Ibarat gayung bersambut dengan harapan ini, datanglah seorang laki-laki yang tidak memalukan untuk dibawa ke keluarganya, juga menyatakan ingin segera menikah, dengan bonus romantis pula. Hanya saja sebenarnya laki-laki ini sebenarnya sudah memiliki istri yang katanya sudah tidak akur lagi. Ah.. karena sudah tidak akur lagi tentunya itu bukan fakta penting karena toh si pria ini tampak bersungguh-sungguh ingin menikahi si Gadis dan lagi pula si pria ini romantis dan jago merayu.

Ah.. tampak tidak penting juga bagi si Gadis bahwa kenyataannya si pria masih pulang ke rumah jika istrinya menelepon. Juga si Gadis melewati fakta bahwa si pria pernah beberapa kali ketahuan berbohong padanya, toh si pria selalu meminta maaf sambil membawa hadiah2 menawan.

Saat ini lah Gombalisasi sedang berlangsung. Pikiran rasional seorang Gadis yang cukup cerdas dapat di kelabuhi oleh persepsi dan harapannya sendiri, dengan dukungan perilaku gombal si Pria. Apakah si gadis tidak sadar dengan gombalisasi ini? sebenarnya sih sadar, hanya saja kerja limbic system dibatasi dengan persepsi maupun harapannya pada saat itu. Namun ketika harapannya tidak kunjung terjadi,maka mood dan emosi yang tadinya memfokuskan pandangan pada satu titik, pada akhirnya mencoba menerima dan menganalisis fakta-fakta lain yang selama ini diabaikan.

Oleh karena itu yang sangat dipahami oleh penggombal adalah, mempertahankan mood dan emosi korban hanya pada satu titik persepsi dengan cara membuat harapan korban tampak seperti akan terpenuhi dalam waktu dekat. Oleh karena itu semakin "besar dan sulit" harapan tersebut bagi korban, maka korban akan merasa "wajar" untuk melakukan pengorbanan, seperti layaknya ilmu ekonomi semakin tinggi permintaan maka harga akan semakin tinggi.

Oleh karena itu korban penggombalan tingkat tinggi ini biasanya akan sangat marah karena merasa ditipu,  seperti korban-korban MLM/Money  Game/ Investasi-gelap- dengan-bunga-sangat-tinggi yang bisa ngamuk berhari-hari didepan "kantor" investor mereka.

….. dituliskan berdasarkan saran dari seorang teman yang sangat ahli menggombal untuk menuliskan teori-teori sok tahu saya yang biasanya dimuntahkan ketika sesi-sesi curhat sedang berlangsung…. ditunggu lagi sesi-sesi berikutnya dr. F siapa tauk bisa jadi postingan Gombal seri 2 yang isinya tips-tips menggombal….

Automaticaly Procrastination

February 19th, 2008 by ira-silva

Mungkin cerita ini cukup sering didengar atau bahkan dialami. Cerita tentang Swalas si mahasiswa pemalas yang sedang merayu temannya Prenbaik.  "Duh.. mati gue…tadi malem bukannya nyelesein tugas dari Pak Kilerabis, Dosen matakuliah anu yang galak banget itu… eh gue malah main Online games ampe pagi. Plis.. gue copy paste dari elo aja yaa,  ntar gue traktir elo deh".

Swalas ini sebenarnya berniat untuk menyelesaikan tugasnya dengan memulai membuka komputernya, hanya saja rasa malas menyergap. Ia pun berupaya untuk  membangkitkan mood menyelesaikan tugas dengan cara memulai pekerjaan-pekerjaan ringan seperti membuka, membaca dan membalas e-mail yang dilanjutkan dengan membaca beberapa blog yang kemudian dilanjutkan dengan bermain online games. Hanya saja ternyata tidak hanya mood mengerjakan tugas saja yang terbangkitkan, namun juga mood untuk terus melanjutkan permainan.

Prenbaik yang sudah sering menghadapi rayuan Swalas terheran-heran bertanya "Kejadian lagi Las? Kok bisa sih?" Swalas dengan wajah pasrah menjawab "Ngga tauk Pren…. kok kayaknya otomatis gitu nggak bisa diberhentiin"

Swalas rupanya sedang mengalami proses otomatis procrastination dengan melakukan game online, atau proses menunda pekerjaan otomatis (ini bukan istilah ilmiah).  Mengapa dikatakan otomatis, karena pada tataran kognitif manusia lebih mudah melakukan hal-hal yang sifatnya otomatis dari pada yang terkendali (controlled). Hal yang terkendali membutuhkan upaya untuk mengarahkan diri sedangkan untuk hal otomatis, biasanya hanya diperlukan sedikit upaya maupun intensi dalam melakukannya. Oleh karena itu hal yang otomatis itu juga hanya membutuhkan sumberdaya perhatian yang tidak besar dibandingkan dengan tindakan yang terkendali.

Mengapa game online maupun komputer dapat dengan mudah menjadi tempat favoit Swalas untuk melakukan proscratination atau menunda pekerjaan? Tidak lain tidak bukan karena tidak terlau banyak hal yang harus dipikirkan ketika bermain dengan komputer, dan Swalas telah terbiasa untuk melakukan hal-hal yang dilakukan dengan komputer maupun game online dibandingkan menyelesaikan suatu tugas yang lebih spesifik, lebih sulit, lebih banyak yang harus dilakukan maupun dipikirkan, serta tidak biasa dilakukannya seperti menyelesaikan tugas kuliah.

Selain itu terkadang karena sangat otomatisnya Swalas membuka game online saat membuka email, hal ini membuat Swalas lupa akan niat awalnya untuk menyelesaikan tugas, dan ia keasikan bermain sampai pagi. Hal ini terkait dengan pembiasaan (dalam hal ini membuka e-mail sekaligus dengan game online) dan terjadinya slip atau kesalahan yang berkaitan dengan proses otomatis.

Untuk dapat terselamatkan dari kesalahan dalam menjalankan proses otomatis ini, tidak lain tidak bukan Swalas harus menjaga span atensinya terhadap tugas yang diberikan, alias berupaya lebih untuk dapat memberikan atensi maupun konsentrasi terhadap tugas-tugas yang diberikan.

Bagaimana cara untuk tetap pada rentang atensi yang diinginkan salah satunya adalah konsentrasi maupun menggunakan alat bantu agar antensi tersebut tetap terjaga. Hanya saja menjaga rentang atensi tetapi pada yang diinginkan memang sulit…. buktinya saya masih tetap melakukan automaticaly procrastination with computer instead of doing something else with my tasks. What a waste…

Hanya dengan satu DNA

January 3rd, 2008 by ira-silva

Apa sih kelebihan manusia dari hewan…?? Aristotleism akan mengatakan bahwa manusia tidak jauh berbeda dengan hewan. Bahkan hanya dengan satu perbedaan protein DNA pada rantai DNA membuat kita memiliki kelebihan jauh diatas simpanse.

Selain otak apa lagi keunggulan manusia dari pada hewan? Tidak ada jawaban pasti, namun kalau saya boleh berteori selain otak, manusia punya rasa. Mengapa rasa harus dipisahkan dari otak, hanya karena saya ingin menegaskan bahwa rasa yang dimiliki manusia berbeda dari hewan. Rasa itu yang terkadang bisa mengendalikan otak, atau sebaliknya. Dengan rasa itu juga manusia tidak akan memakan anaknya yang lemah, atau dengan rasa manusia memiliki etika dan aturan sosial.

Rasa kangen, rasa sayang, rasa benci, rasa dendam, rasa cinta, rasa marah, rasa malu, rasa senang, rasa takut, rasa cemas, rasa bangga…. dan rasa-rasa lainnya, biasanya di kategorikan sebagai emosi, karena konon katanya Bahasa Indonesia tidak memiliki padanan kata yang sama. 

Semua rasa ini memiliki jejak neurologisnya di otak, jika seseorang sangat cemas dan bahkan cenderung traumatik dapat menyebabkan bagian amygdala di otaknya mengecil dan tidak dapat membesar kembali. Tapi apakah sebaliknya orang yang amygdalanya kecil menyebabkan Ia selalu tampak cemas tingkat tinggi? Inti dari cerita ini adalah selalu ada keterkaitan antara otak dengan rasa. Namun simpanse yang juga memiliki otak dengan volume yang hanya berbeda sedikit tidak menunjukkan rasa sekaya rasa yang dimiliki oleh manusia. Benarkah?

Rasa yang dimiliki oleh bayi manusia menyebabkan mereka mau berbagi perhatian/intensi (shared intentionality) dengan orang dewasa yang ada di sekitarnya. Bukan berarti simpanse tidak melakukannya, hanya saja simpanse mau ikut berbagi perhatian hanya jika tindakan manusia/simpanse lain ada kaitan dengan kebutuhannya. Misalnya ia mau menoleh kearah yang sama dengan manusia jika arah tersebut berarti makanan dan setelah ia memperoleh makanan tersebut, maka ia tidak akan kembali menoleh kearah semula, walau manusia masih menoleh kearah yang sama.

Hal yang berbeda terjadi pada bayi 9 bulan. Jika kita menoleh pada suatu arah/objek ia akan ikut menoleh ke arah yang sama dan setelah itu kembali melihat kepada mata kita dan kembali ke arah kita menoleh. Hal ini dilakukannya berulang-ulang untuk meyakinkan bahwa ia melihat kearah yang benar dan menyampaikan bahwa ia berusaha memahami apa yang ia lihat. Bayi akan mempelajari reaksi kita sebagai orang dewasa, yang sedang melihat objek tersebut, untuk bersikap. Disini terjalinlah komunikasi antara bayi dan orang dewasa, dan bayi memperkaya, melatih dan mengembangkan rasa yang dimilikinya.

Masih belum terlalu jelas buat saya apakah rasa pada bayi yang menyebabkan mereka mau berbagi perhatian atau sebaliknya, karena mereka mau berbagi perhatian maka mereka mengembangkan rasa.

Tapi yang jelas rasa kangen yang saya rasakan dan memori mengenai rumah dan anak-anak dan suami sangat menguasai saya saat ini, sehingga sulit untuk jadi produktif, malah nulis yang nggak-nggak di blog…. hmpff…..
kangeeeeeeeeeeeeeenn… pengen pulang…..
Aur… Ayya…Abak… Ande kangen berats…

JANGAN….

December 30th, 2007 by ira-silva

Alkisah si Oneng pergi berkunjung ke rumah familinya. Hari itu hujan deras dan  Oneng tidak memiliki payung, sehingga ia terpaksa meminjam payung dari Emak, dengan pesan "Awas JANGAN sampai hilang" . Mengingat sifat Emak yang kikir Si Oneng berpikir "JANGAN sampai payung Emak ini ketinggalan" itu terus yang dipikirkannya. Saat sampai di tujuan hujan telah reda, dan menjelang Oneng akan pulang matahari pun telalh bersinar dengan terangnya…. dan dalam perjalanan pulang Oneng menyadari bahwa ia MENINGGALKAN payung Emak.

Apakah kisah si Oneng ini juga sama dengan kisah anda?? (kalau saya sih akan jawab "yes I do"). Apakah Oneng sedemikan "oon"-nya sehingga ia meninggalkan payung Emak?

Rasanya taraf kecerdasan tidak bicara banyak untuk kasus ini, yang terjadi adalah terjadi kesalahan teknik dalam pemrograman otak. Otak kita lebih mudah untuk menerima hal yang disampaikan secara positif maupun hal yang telah biasa /sering dilakukan. Oleh karena itu jika Anda kehilangan satu barang pertama-tama pasti anda akan mencarinya di tempat favorit, dan hal itu terkadang dilakukan secara otomatis ketika anda mencari benda tersebut. Artinya pembiasaan dapat menjadi program luar biasa bagi otak anda.

Pada kasus Oneng, ia tidak terbiasa dengan payung tersebut dan berada pada tempat yang tidak dikenal oleh program otaknya. Hal ini membuatnya harus memanfaatkan semua fasilitas yang ada untuk mengingat beberapa hal sekaligus, pertama dengan persepsi ia harus mengenali tempat ia meninggalkan payung Emak dan memanfaatkan memori untuk mengingat tempat tersebut. Kemudian ia harus memprogram otaknya untuk mengingat bahwa ia harus membawa payung Emak kembali bersamanya. Hanya saja ia memberikan tugas yang sedikit rumit bagi otak yaitu mengingat JANGAN meninggalkan payung.

Otak terbiasa untuk berpikir secara positif, sehingga ketika diberikan tugas dalam bentuk negatif seperti "JANGAN", membuat otak harus mengingat dua hal yaitu meninggalkan dan JANGAN (meninggalkan). Ilustrasi yang mudah adalah ketika anda diminta untuk "JANGAN BERPIKIR TENTANG GAJAH BERWARNA PINK". sesaat setelah anda membaca kalimat diatas, saya berani bertaruh bahwa yang anda pikirkan pertama kali adalah Gajah berwarna Pink. Yang akan terekam lebih kuat oleh otak adalah pesan utamanya yaitu
meninggalkan, jika kita kurang berkonsentrasi atau dalam proses
mengingat kembali terganggu oleh hal lain, maka perintah kedua (JANGAN)
tidak tersimpan atau terpanggil dengan baik.

Oleh karena itu akan lebih memudahkan jika kita menggunakan bahasa-bahasa yang lebih positif seperti yang kita harapkan. Pada kasus Oneng di atas, akan lebih baik jika Oneng berpikir "saya harus membawa payung itu pulang", sehingga memudahkan otak untuk di program sesuai dengan yang kita inginkan….

Hiks… tapi teori tetap teori… kenyataannya kita suka sekali mengambil jalan pintas dengan berkata JANGAN. Seperti Jangan meninggalkan Hape di Kereta….. Jangan ketinggalan buku catetan primbon di rumah teman karena hape sudah ketinggalan dikereta.

Daaaan………. terjadilah itu semua….. Huaaa…… all prens….. kirimin no. telepon relasi, sejawat dan nomor apa aja deh.. yang kali aja dibutuhin sama gue…. hiks.. yang tauk imel, lewat imel, lewat YM, ato lewat FS juga boleh… yah.. yah.. yah…

Meniru

September 19th, 2007 by ira-silva

Semua orang pasti pernah meniru atau mengimitasi suatu hal. Apakah itu gaya berpakaian, cara merokok, cara mendekati lawan jenis, atau gaya bayi meleletkan lidahnya atau berbagai hal lainnya. Bahasa "keren" dari meniru itu meng-imitasi (imitating). Ketika kita meniru seseorang, seringkali tidak kita sadari bahwa yang kita lakukan itu adalah melakukan kontak sosial.

Dengan meniru setiap gerakan seorang anak kecil, hal itu akan membuat anak itu tertawa ataupun kesal. Ingat permainan "aku jadi cermin" yaitu kita melakukan semua gerakan lawan kita sampai ia kesal atau kita tidak dapat lagi mengikuti gerakannya. Biasanya hal ini dapat dijadikan ice breaking dalam suatu pelatihan karena memang meniru orang lain maupun ditiru orang lain itu menyenangkan. Apalagi ketika di SMU orang mengikuti gaya kita berpakaian membuat kita menjadi selebriti sekolah, dan menjadi pusat perhatian banyak orang.

Seringkali kita tidak sadar atau pura-pura tidak sadar dalam meniru orang lain. Hal itu sah-sah saja, karena proses dalam pikiran kita tidak sesederhana itu dalam meniru. Seringkali kita meniru orang lain tidak secara "mentah-mentah" akan tetapi dimodifikasi sesuai dengan keadaan kita. Jadi yang ditiru oleh orang bukanlah gaya akan tetapi goal/tujuan dari dilakukan suatu tindakan.

Katakan si fulan bercerita ia berhasil menggaet lima orang pacar sekaligus dan hal itu menyenangkan serta membanggakan. Ia pun menceritakan tip dan trik disertai "bumbu" gaya dan kalimat yang dipergunakkan untuk memperdaya lawan jenis. Sang teman tertarik untuk menirunya, maka ia akan meniru tip dan trik dari si Fulan, namun dengan gaya dan kalimat yang ia miliki sendiri.

Hal ini juga menunjukkan bahwa dengan meniru kita bisa belajar. Seperti bayi menirukan semua kata-kata yang diucapkan ibunya atau ikut ber-ciluk ba bersama orang dewasa yang sedang bermain dengannya. Saat itulah bayi belajar.

Mungkin itu sebabnya saat kita sedang beradaptasi dengan suatu kondisi yang baru, biasanya kita akan melihat-lihat kebiasaan orang lain. Misalnya jika seseorang pergi ke tempat yang sangat berbeda aturan, nilai dan normanya dengan yang telah biasa ia ketahui maka ia akan memperhatikan cara orang lain bertingkah laku.

Hal itu yang terjadi ketika saya berbelanja di supermarket di Belanda. Disaat kita berbelanja di Indonesia, biasanya kita tinggal membayar dan setelah itu kita akan dilayani sampai semua barang siap dibawa. wuah… ternyata itu after sales service yang sangat baik.  Disini semua orang membawa tas belanjanya sendiri, menggesekkan kartu kredit atau kartu debet sendiri dan memasukkannya ke kantong belanja sendiri.

Saya yang tidak terbiasa ternyata kalah cepat memasukan belanjaan ke kantong daripada oma-oma yang membayar di kasir sebelah. Setelah saya perhatikan, ternyata orang-orang telah mempersiapkan semua sebelum membayar, kartu, kantong belanja dan setelah barang di gesek oleh kasir barang-barang langsung dimasukkannya ke dalam kantong, Bahkan beberapa orang telah menyusun barang di hadapan kasir sesuai dengan susunan barang yang akan di masukkan ke keranjang belanjanya. Wow… so well prepared.

Belanja berikutnya saya mencoba mengikuti gaya si oma, walhasil saya ga terlalu kedodoran, walau susunan barangnya masih amburadul. hehehe.. yang ini kayaknya agak sulit diubah :-)

Jadi meniru itu ada gunanya kan?
 

Teman…..

August 31st, 2007 by ira-silva

Ketika orang sudah dianggap tidak menguntungkan lagi maka orang yang bersedia menemaninya adalah seorang teman

Ketika hati ragu melangkah, teman menguatkan

Ketika tidak ada tempat berpaling, teman menampung

….. Terimakasih untuk menjadi temanku selama ini……

dipersembahkan untuk semua temanku…..

esti….. selamat berjuang; rosie… ditunggu di Nijmegen; antie….. go for it girl….; dian…. jangan pernah berhenti jadi temen ira; semua BPIPers… love U all….

—- buat pembaca Blog… sori personal… tapi ini adalah tribute untuk semua temanku —

Memilih…..

July 5th, 2007 by ira-silva

Kadang saya benci dengan kata yang satu itu, karena ketika harus memilih mengingatkan betapa menjadi orang dewasa itu tidak menyenangkan. Ketika suatu keputusan dibuat dari beberapa pilihan yang ada maka mengikuti dibelakangnya adalah tanggung jawab dan konsekuensi yang harus ditanggung oleh pengambil keputusan.

Pilihan menjadi lebih berat untuk diambil karena memperhitungkan konsekuensi dari keputusan dan siapa saja yang terpengaruh oleh keputusan itu. Itu kenapa CEO bisa digaji ratusan juta padahal bekerjanya hanya mengambil keputusan. Itu juga sebabnya kita harus merasa prihatin dengan gaji Presiden yang "cuma" Rp 60Juta tapi harus memikul tanggung jawab 120juta orang Indonesia (ato sekarang dah lebih ya…??) tapi… hidup itu pilihan…. siapa suruh jadi Presiden kalo ga mau tanggung jawabnya cuman mau gaji-nya doang….

Terkadang teori memilih dengan SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) ga bicara banyak kalo udah harus memilih dengan muatan emosi yang besar. Bukan karena SWOT-nya ga berhasil, cuma terkadang kita jadi ga jujur ama diri sendiri ketika harus mengklasifikasikan suatu kondisi, misalnya apakah punya anak gadis yang lucu-lucu itu suatu kekuatan atau ancaman bagi seorang bapak? Kalau kita bertanya pada orang tua tertentu di suatu daerah penghasil mangga dan "wanita" mungkin jawaban yang akan kita peroleh adalah punya anak gadis adalah suatu kesempatan!! itu kenapa menurut hemat saya SWOT jauh lebih berhasil digunakan pada lingkungan kerja dimana pemikiran lebih objektif dan ilmiah.

Mengingat memilih itu memiliki konsekuensi yang tidak menyenangkan, seringkali  orang menunda untuk memilih sehingga pada suatu saat ia terdesak untuk mengambil suatu keputusan dengan tergesa-gesa dan tidak lagi memiliki waktu untuk melakukan analisis dan persiapan terhadap konsekuensi pilihannya. Atau jika ada kesempatan untuk bermain di median…. maka median menjadi pilihannya, seperti ingin menjadi gay namun juga dituntut untuk menjadi straight sehingga akan lebih aman untuk memilih menjadi biseksual.

Tapi hidup ini penuh dengan pilihan mulai dari bangun pagi… memilih bangun atau mematikan weker dan kembali menarik selimut, memilih mandi pagi atau siang, memilih pergi bekerja atau nongkrong di mall, memilih menu makan siang, memilih pasangan hidup, memilih mengingat atau melupakan, memilih ada atau tiada, memilih pergi atau tinggal. Semua pilihan ada konsekuensinya, semua konsekuensi menuntut tanggung jawab.

Memilih membutuhkan kemampuan analisis, akan tetapi bertanggung jawab membutuhkan kemampuan mendorong dan memfokuskan diri. Selain itu internalisasi nilai-nilai, aturan, disiplin yang dimiliki oleh seseorang juga memegang peranan penting akan terlaksana atau tidaknya tanggung jawab itu. Ketika Gajah Mada memilih untuk tidak meminum air kelapa hal itu menjadi penting karena air kelapa merupakan lambang kenikmatan. Konsekuensi hilangnya suatu kenikmatan dalam jangka waktu tertentu dapat menjadi dorongan yang amat besar untuk mencapai target tertentu dan dengan cara apa target tersebut dapat tercapai.

Kembali lagi dengan memilih…. kalo saya boleh memilih…. saya pengen dipilihin aja deh… kembali menjadi anak kecil yang dipelototi oleh ibunya ketika salah memilih baju untuk pergi, atau yang diputuskan oleh ayahnya untuk masuk SMP negeri atau swasta….
Huuh….. sayangnya itu bukan pilihan…. so I have to keep my mind clear, so I could pick the right decision not only for today but for the rest of my family life.

Badanmu ingatanmu

May 13th, 2007 by ira-silva

Ketika mengingat sesuatu peristiwa, seseorang, sesuatu terkadang sayaa membutuhkan suatu media untuk mengingatnya. Misalnya saat saya kehilangan suatu barang, misalnya dompet (hehehe saya banget) karena ga seperti HP yang bisa ditelepon untuk mengetahui keberadaannya maka untuk mengingat kembali keberadaan dompet itu maka biasanya saya melacak kembali dimana dompet itu terakhir teringat masih berada dalam genggaman saya sampai I lost my memory. Setelah itu kita berusaha berada diposisi yang sama dan biasanya saya akan mengulangi kembali gerakan yang telah dilakukan sebelumnya sampai akhirnya saya menemukan dompet sialan itu (dah ga ada isinya pake ilang lagi).

Apa yang dilakukan itu adalah mengingat dengan menggunakan badan. Selain terdiri atas otak yang memang tugasnya adalah mengingat, badan juga terdiri atas otot-otot serta panca indera yang juga memiliki ingatan (somatic memory) yang dapat membantu orang lain untuk mengingat akan sesuatu. Somatic memory termasuk pada ingatan implisit yang mengingat secara tidak sadar (Unconscious), prosedur yang sifatnya otomatis, pengkondisian, berasal dari indera maupun yang bersifat emosional.

Itu sebabnya Jacky Chan dalam film Who am I tetap jagoan kungfu walau sudah ditahbiskan menjadi salah satu anggota suku di Afrika, karena kemampuan olah badan seperti kungfu, bersepeda, menyetir maupun mengetik 10 jari diingat oleh
otot-otot yang melakukannya secara prosedural. Ingatan somatic ini pula yang membuat kita selalu tahu letak hidung kita walaupun dalam keadaan mata tertutup.
somatic memory ini menjadi jembatan antara ingatan yang emosional dengan suatu kondisi.

Berada pada tempat dimana seseorang menggunakan putau untuk pertama kalinya dapat menjadi pemicu seorang pengguna yang telah bersih untuk menggunakan kembali, hanya karena ia mengingat rasa pada lidah dan aliran darah, bau  putau yang diasosiasikan dengan kenikmatan menggunakannya.

Demikian pula saat mendengar lagu "You come to my senses"-nya Chicago tahun 1991/1992-an dapat membuat teman saya mengingat wanita istimewanya namun tidak dapat mengingat wajah wanita tersebut. (baca abi lupa

Mungkin teman saya itu perlu kembali lagi ke kelasnya ketika SMA sambil menggunakan baju seragam SMA dan duduk di tempat yang sama (hmmm masih cukup ga ya tempat duduknya *wondering*) agar ia dapat mengingat dengan jelas seperti apa wajah wanita cantik itu, dimana letak tahi lalatnya, kulitnya yang putih seperti marmer dan tentunya akan sangat membantu untuk mengingat suaranya yang serak-serak berat (hehehe… gw ngebantu elo untuk nginget ga Bi?)

Tapi yang repot adalah ketika kita dalam kondisi yang sangat tidak ingin diingat dan sifatnya traumatis, somatic memory ini ga mau kompromi, karena dalam kondisi seperti ini somatic memory adalah satu-satunya memori yang aktif dan merekam semuanya saat kondisi kesadaran kita ditekan untuk tidak mengingatnya secara sadar.

Ingatan somatic ini adalah jembatan dari tubuh dan jiwa yang terkadang suka tidak sinkron satu sama lainnya saat menghadapi masalah. Dengan bantuan dari somatic memory ini lah kita bisa menggunakan tubuh kita untuk mencari link yang hilang dari masalah yang selama ini diingat secara subjektif. Tidak seperti cognitive memory yang dapat ditafsirkan ulang sehingga ingatan menjadi subjektif, somatic memory mengingat apa adanya karena tidak memiliki bahasa untuk menafsirkan suatu kejadian yang direkamnya. Ia hanya mengingat posisi atau situasi dan emosi yang menyertainya seperti jantung yang berdebar-debar disertai perasaan hangat saat melihat seseorang yang dirindukan mencuri pandang maupun menatap tajam dengan penuh arti.

Well….
Ternyata orang Jepang ada bener juga,
dibalik badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat.
eh.. ga nyambung ya…
ya.. udah ntar lagi nyambungnya….. dah malem ngantuk nih…
mudah2an bisa nyambung dengan cara-cara terapi yang memanfaatkan badan untuk mengatasi masalah psikologis.
(btw yang mau baca lebih lanjut silakan dari buku "The Body Remembers" ditulis oleh Babette Roschild, 2000)

Forgiven but not Forgotten

May 9th, 2007 by ira-silva

Seringkali kita bilang "ya saya memaafkanmu", tapi semua hal yang dimintai maaf itu masih diingat oleh kita.
Apakah itu dendam?
Mungkin bukan… manusia memiliki kemampuan luar biasa dalam mengingat, terutama jika telah terekam dengan baik di memori jangka panjangnya dan disimpan pada folder yang tepat sehingga mudah untuk dipanggil kembali.
Ketika mengingat hanya sekedar proses kognisi seperti saat menghafalkan tahun-tahun pada pelajaran sejarah di smp ato sma terkadang ingatan tampak tidak mau kompromi dengan keinginan kita untuk menghafalkan semua tahun itu dalam waktu semalam.
Hanya saja ketika hafalan itu dibikinkan jembatan keledainya, seperti nama-nama unsur kimia golongan IX (eh.. betul gak nih?) banyak diantara kita yang dapat mengingatnya dengan mudah karena dikaitkan dengan sesuatu yang lucu, ato bahkan cenderung nakal dan jorok (ingat… Heboh Negara Arab Krana seX(e) Rnjang)
Memory manusia memang aneh karena ia bekerja tidak hanya secara prosedural akan tetapi berkaitan erat dengan emosi. Karena suatu trauma orang bisa melupakan satu bagian dari hidupnya karena mengandung emosi yang negatif. Kenangan indah saat kencan atau sekedar melihat seseorang signifikan walau dari jauh bisa tersimpan dengan baik dalam folder yang sangat mudah dan cepat diakses karena memiliki emosi yang sangat positif. Begitu juga rasa marah, sedih dapat dengan mudah terpanggil kembali walau tidak diinginkan oleh yang merasakan.
Mungkin memang seharusnya tidak dilupakan, hanya saja diturunkan  kadar emosi negatifnya, sehingga sesuatu dapat diingat oleh seseorang dengan lebih objektif
sehingga menjadi suatu pelajaran berharga dimasa yang akan datang.
Kembali lagi pada pelajaran sejarah, bukan tanggal atau tahunnya yang penting, namun apa yang terkandung dan harus dimaknai pada momen itu, sehingga kita belajar banyak untuk tidak menjadi keledai si bodoh yang jatuh terperosok pada lubang yang sama.
Pertanyaan besarnya…. how the hell i dump this feelings?
Kembali lagi pada kiasan yang selalu di pergunakan psikolog…..
"Psikologi itu untuk anda bukan untuk saya"
hehehe…. ;-p
ternyata bukan hanya rocker yang manusia *wink*